Rapat Gelap
Siang itu saya sengaja tidur untuk istirahat, karena semalam begadang sampai jam 03.00 dini hari. belum lama berselang merasakan nikmatnya tidur siang, tiba-tiba hanphone saya berdering. Dengan mata terkantuk-kantuk saya angkat dan setengah sadar berbicara, "..hallo.., siapa nih...". Ternyata yang njawab suara wanita, dengan suara lantang memberitahukan bahwa saya diharap datang saat ini juga di rumah bu Irsa, penting, beliau adalah salah seorang dosen Ubaya Surabaya, yang berdomisili di kawasan Mulyosari.
Mendengar undangan via handphone itu, "ada apa ya..?!", gumam saya dalam hati. Tanpa pikir panjang saya segera bergegas bersama mobil kesayangan Feroza, meluncur menuju lokasi. Sesampainya di tempat ternyata sudah hadir beberapa orang yang telah menunggu diantaranya bu Irsa bersama Mas Bambang suaminya, Jenderal(Purn) Soetjipto dari Malang, H. Mughni, Pak Roziq dan beberapa orang lagi yang belum saya kenal.
Setelah berkenalan dengan beberapa orang baru dan bercengkerama sejenak, baru dimulai topik kumpul-kumpulnya, ternyata rapat membicarakan pengajuan pinjaman dana, dengan mendirikan koperasi.
Dana yang diajukan lumayan fantastik Rp 650 milyar, dan saat itu dibentuklah sebuah koperasi bersama para pengurusnya. Saya kebetulan kebagian tugas di bagian pengembangan real estate. Meski saya tidak ada background disana, ya terima aja, yang penting kepengurusan terbentuk, demi lancarnya pengajuan kreditnya, kata Pak Tjip.
Saya sih inggih-inggih saja, yang penting bisa dapat dana. Masalahnya ini adalah rapat yang tidak biasa, tidak lazim, karena terbentuknya secara mendadak didesak olek keadaan yang mengharuskan beberapa orang yang telah berkumpul itu melakukan untuk menyelesaikan beban dan tanggung jawab yang telah diembannya.
Sebelum item-item dan syarat-syarat terpenuhi, kami sering mondar-mandir surabaya-malang. Dengan agenda yang sama namun dengan suasana berbeda, di Malang pertemuan dilakukan di kediamannya Pak Tjip daerah Soekarno-Hatta.
Pengajuan kredit dilakukan di kantor perwakilan Swiss di Indonesia, Graha Pangeran Gedung BNI 45 Surabaya. Setelah beberapa kali melakukan rapat dan pertemuan, persyaratan rampung dan langsung diajukan ke pihak debitur, yang kemudian di follow up-pi oleh team mereka yang langsung memantau dilapangan. Guna mengecek kebenaran keberadaan Koperasi yang telah kita bentuk, Dengan membayar profisi yang mereka syaratkan senilai Rp.650 juta maka danapun bisa cair.
Namun setelah ditunggu prosesnya beberapa hari, minggu, bulan, dana itu tak pernah ada kelanjutannya. Akhirnya kita putuskan bersama untuk menarik kembali permohonan dan sekaligus meminta kembali uang profisi yang telah kita bayar.
Gila juga tuh orang, sepertinya ini adalah permainan mafia kelas tinggi, melibatkan intelektual, tenaga profesi dan lain-lain yang kira-kira dibutuhkan untuk melancarkan operasinya. Ternyata hingga saat ini, pinjaman dana itu tak pernah ada, karena ada puluhan bahkan ratusan mungkin, perusahaan-perusahaan yang mengajukan pinjaman kepada mereka dengan membayar profisi lebih dulu.
By : Cakyoudee