Paid Surveys

readbud - get paid to read and rate articles
SocialTwist Tell-a-Friend

11 September 2008

Makna Ramadan di Zaman Edian

Bungkus penting, tapi isi lebih penting. Yang lebih penting lagi adalah yang membungkus dan yang mengisi. Itulah kira-kira sebagian makna hidup di dunia ini, bagaimana seharusnya kita mengisinya. Karena zaman sekarang adalah zaman kebalikan, kembali ke era jahiliyyah, zamannya sudah edian. Manusia-manusianya sudah tidak lagi mempedulikan baik-buruk, halal-haram, hitam-putih, yang penting kenyang, yang penting happy, muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga, surgane mBahmu kui..!.

Mbok-ya sadar, berapa lama sih kita hidup di dunia ini ?. Kalau dingatkan malah meweli "yo wis ben neroko tak nggon-nggoni dewe". Dasar mbeddenggul, bagaimanapun juga kalau telinganya disumpel kerak-kerak nafsu, maka akan tuli dan mbidek. La wong dunia ini ibarat sebuah personal computer, bergantung pada setting-settingannya. Secara global juga sudah disetting oleh si empunya jagad. Bagaimana mungkin computer dengan basis linux bisa dioperasikan ala microsoft windows ?!. Akan banyak perangkat-perangkat yang tidak compatible. Heheheee....mBah Darmo ngerti komputer caaakkk..!. "La ya ada kemajuan, masak bisanya cuman nembang campursari sama uyon-uyon".

Kalau sedari awal sudah tidak pernah wudlu, tidak bernah dzikrulloh sangat kuecciiil kemungkinan untuk bisa husnul khotimah, kecuali atas kehendaknya. Bulan puasa, bulan penuh magfiroh ayo sama-sama kita manfaatkan untuk konsumsi TOWAK(noTO aWAK), alias menata diri agar selalu berada di koridor yang sesuai dengan tuntunan Rosuululloh Muhammad SAW.

"Jamane jaman edian, yen ora melu edian ora keduman, sak bejo bejaning wong kang lali isih bejo wong kang eling lan waspodo". Jangan ikut-ikutan edian, memang abot sanggane selalu berada di jalannya, banyak godaan, iming-iming, yang bikin gulu menjing clegu'en.

Namun bagi yang bisa melihat visi jiwa dan kehidupan dimasa datang justru itu menjadi sebuah tantangan positip yang dapat menjadi tumpuan untuk meretas di kehidupan yang lebih baik dan lebih baik. Maju secara uhrowi dan perkembangan jiwanya.

Masih ingat makna kalimat "MENSANA IN CORPORI SANO" ?, bahwa didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat dan kuat. Kalimat ini sekarang serasa kurang relevan, karena banyak sekali manusia-manusia yang sehat badannya namun jiwanya tetap sakit. Para pejabat negara juga sehat badannya namun tetap korupsi. Perkosaan , perampokan, penganiayaan dilakukan oleh orang-orang yang badannya sehat.

Diseberang jalan tidak jauh dari rumah ada seorang buruh kasar yang badannya kurus kering, guratan perjuangan hidupnya nampak di raut wajahnya, suatu ketika dia menemukan dompet tergeletak ditepi jalan, karena dia tahu pemiliknya saat lewat, maka dikejarnya si pemilik dompet sekuat tenaga dan menyerahkannya. Secara kasat mata badannya kurang sehat, kurang gizi namun jiwanya telah mendapatkan pencerahan dari olah rohaninya selama menjalani hidup ini dengan baik. Jiwanya sehat, dia tahu itu bukan menjadi haknya, maka diserahkan dompet itu kepada pemiliknya.

Harapannya kita semua bisa belajar dari kehidupan dimasa lalu sekarang dan yang akan datang. Mati sudah pasti tak dapat dihindari, apalah artinya harta jika membuat kita sengsara. Kebahagiaan hanya ada didalam hati sanubari kita masing-masing, kitalah yang mempola suasana untuk menjadi bahagia atau tidak.

Oleh : Cakyoudee

Artikel Terkait:

Top Articles

Widget by ateonsoft.com

  © Hak Cipta 'Dilindungi' Oleh Alloh SWT 2008

Back to TOP